Sudah tidak ada lagi canda yang menghapus liurku setiap pagi
Di musim yang lalu, bergelak tawa menghapus kesal, marah, apalagi resah
Aku cuma tahu rasanya bahagia, saat itu
Lalu musim berganti
Awan hitam menggiring gemuruh petir
Kemarau telah menguapkan tawaku setiap pagi
Hujan mengiringi pelan bening air mataku yang asin
Aku pun tahu, tawaku hanya berlaku di satu musim saja
Read More......
Wednesday, September 2, 2009
Terlambat
Aku berpaling. Menemuinya dalam selintas pertemuan dua kornea.
Berbatas kaca kornea itu bicara.
Dalam senyap yang tertelan saja.
Aku menunduk. Bersekutu dengan gemuruh aliran darahku.
“Bukan begini caranya!”
“Mana cinta yang kumau?”
Aku menunduk, tanpa jelang.
Meremas seluruh ucapnya. Kuraba segala candanya.
Kurunutkan sumpah serapah. Menjajaki setiap angkuhnya.
Mengabaikan segenap prilakunya.
Cacinya…,
Aaargh!! Aku bodoh.
Terlalu lama aku bermain dalam kebekuan yang panjang.
“Bahasa cinta tidak selalu indah, kan?”
Aku tahu, dia mencintaiku lebih dari sekadar belaian sebelum tidur.
Lalu aku kembali berpaling menyapa.
Kornea itu telah menutup tanpa batas kaca.
Tidak lagi bisa aku mengetuknya.
Kenapa di saat bersamaan aku mengerti bahasa cintanya.
Im sorry Dad ;)
Read More......
Berbatas kaca kornea itu bicara.
Dalam senyap yang tertelan saja.
Aku menunduk. Bersekutu dengan gemuruh aliran darahku.
“Bukan begini caranya!”
“Mana cinta yang kumau?”
Aku menunduk, tanpa jelang.
Meremas seluruh ucapnya. Kuraba segala candanya.
Kurunutkan sumpah serapah. Menjajaki setiap angkuhnya.
Mengabaikan segenap prilakunya.
Cacinya…,
Aaargh!! Aku bodoh.
Terlalu lama aku bermain dalam kebekuan yang panjang.
“Bahasa cinta tidak selalu indah, kan?”
Aku tahu, dia mencintaiku lebih dari sekadar belaian sebelum tidur.
Lalu aku kembali berpaling menyapa.
Kornea itu telah menutup tanpa batas kaca.
Tidak lagi bisa aku mengetuknya.
Kenapa di saat bersamaan aku mengerti bahasa cintanya.
Im sorry Dad ;)
Labels:
Gumam
Menunggu Pagi
Aku menunggumu hingga pagi. Bernyanyi dalam degup jantung menabuh. Tidak ada katamu malam ini. Ngungunku tidak lagi menjadi keinginan. Kosong dan aku terlibat dalam perseteruan khayal yang belum usai.
Menutup mata hanya menambah jumlah bintang-bintang dalam fragmen-fragmen yang bermain di kegelapan otakku.
Jangan. Hari ini aku tidak sanggup menuliskan bagian terakhir ceritaku bersamamu. Read More......
Menutup mata hanya menambah jumlah bintang-bintang dalam fragmen-fragmen yang bermain di kegelapan otakku.
Jangan. Hari ini aku tidak sanggup menuliskan bagian terakhir ceritaku bersamamu. Read More......
Labels:
Gumam
Tuesday, August 26, 2008
Panduan Membunuh Diri
Ziing.. ziiing... rambutku dikeringkan oleh seorang capster. Di depanku duduk seorang perempuan si pemilik salon sedang bercerita tentang mamanya yang membiarkan ia membentuk rambutnya sesuka hati dari kecil. Ia bercerita juga tentang adat pesta yang digemari keluarganya. Mengulik sedikit tentang mama papanya yang tinggal berbeda negara. Mama di Indonesia dan papanya di Portland. Ia terus bercerita sambil mengisap dan mengembuskan asap rokok di selipan dua jarinya.
“Udah cukup... jangan terlalu kering!” perintah si embak ke capster-nya.
Si stylist berdiri dan mengambil alih posisinya. Sekarang ia di belakangku, kami berdua pun lalu menghadap ke cermin. Ia masih dengan ceritanya.
Setelah itu,
“Liat ini!” Perempuan itu menuding nadi di pergelangan tangan kirinya.
Aku yang semula cuma melirik apa yang ia tunjukkan, begitu melihat ada yang beda, langsung menekatkan pandangan. Pembuluh nadinya sedikit menonjol dan berbelok.
“Ini udah tujuh kali gw potong, dan gw ga mati!” Si Stylist kembali mengisap dalam-dalam sebatang sigaret di selipan jarinya. *Set dah!*
“Gw uda nyoba macem-macem cara, yang gw masukin mulut.... Gw minum Baygon campur Superpell, hehe soalnya gw kan ga suka bau Baygon ya Bo… Itu juga ga mati.” Ia tertawa kecil. Aku pun tersenyum, kagum. Hebat juga mau bunuh diri masi mikir bau, suka ga suka.
“Gw minum obat panas gw abisin yang dikasi dokter tu, juga ga mati. Trus gw kan dulu ngdrugs ampe badan gw tuh beratnya Cuma empatpuluh kilo... *tulang? yup* Itu obat xxx gw minum sepuluh butir ada kali ya... Gw ga mati juga. Masuk ICU doang berkali-kali gw... tapi ga mati-mati. Selalu aja ada yang nyelametin gw...” Ia melanjutkan masih dengan senyum dan menggeleng-geleng.
*What the hell is this??!*
Aku terpaku menatap si stylist yang bercerita sambil memainkan rambutku. Satu tangan memegang sisir dan tetap menjepit sebatang LuckyStrike Menthol.
“Makanya, saran gw, elo Nish, kalo mau bunuh diri, mending langsung aja loncat dari atas gedung yang tinggi sekalian.” Perempuan itu berkata dengan tertawa-tawa. Aku cuma tersenyum bingung. Lalu aku mengamati mukaku di cermin. Emang aku ada tampang mau bunuh diri yah? *Belom kawin nih Mbak**
“Loh, kenapa Mbak ga loncat aja?” tanyaku.
“Gw takut ketinggian... Jadi belom nyampe atas udah takut duluan, batal de....” Si stylist terkekeh. Aku mengernyit dahi.
Emang masih ada yah rasa takut saat orang uda mau bunuh diri?
“Emang kenapa sih Mbak, pengen bunuh diri mulu?” Ragu-ragu aku menanyakan ini. Kuatir si embak nggak nyaman juga, tapi aku pengen tau.
“Sekarang lo liat gw... cantik kan gw?” Aku mengangguk.
Narsis juga ni Mbak...
“Gw tuh ngga minta dilahirkan cantik begini! Kalo gw bisa operasi plastik ganti muka, gw ganti de ni muka….Bener!” Si Stylist berapi-api. Lalu mengisap cigaretnya. Aku yang diam ini lalu diongengi tentang sexual abusive yang dialaminya sejak taman kanak-kanak, umur lima tahun, dengan muka datar. Digrepe, dicium dengan nafsu sama keluarga sendiri dan sebagainya, yang membuatku bergidik.
“Cowok mana yang nggak suka, bibir gw merah begini.” Si Stylist menunjuk bibirnya sembari menyalakan satu batang lagi sigaret baru. Lalu tersenyum, manis banget.
Hampir tanpa cacat. Muka tirus, kulit putih, idung lancip, mata cokelat dan senyum membentuk lesung pipit. Giginya putih rapi, bibir sedikit tebal berwarna merah jambu, padahal dia merokok sejak kelas tiga sekolah dasar. Rambut pendek bergaya cowok berwarna cokelat terang dengan hilight kuning. Kacamata membingkai mukanya membuat ia terlihat smart.
“But it was ya, Bo... Sekarang, gw punya suami yang sayang sama gw. Anak gw yang pertama udah kelas lima SD. Maklum ya, yang itu pernikahan dini…” Si Stylist tertawa-tawa. Dari suami pertamanya yang nggak bisa membuatnya bertahan.
“Yang kedua ini Kiara baru satu tahun…” Si Stylist lalu memanggil anaknya.
“Well, Gw bersyukur banget bisa seperti sekarang, kembali dekat dengan tuhan, thanx god, ternyata gw masih diberi kesempatan buat nemuin kebahagiaan, punya suami, punya anak-anak.…” Si Stylist mulai mengecat rambutku. Segenggam segenggam.
Aku pun bersyukur bisa ketemu seorang pemilik salon yang berjuang mati-matian *dalam arti mati-idup:D* menjalani hidup yang nggak mudah bagi siapapun. Setidaknya membuatku tau, ada yang baik dari yang buruk.
Read More......
“Udah cukup... jangan terlalu kering!” perintah si embak ke capster-nya.
Si stylist berdiri dan mengambil alih posisinya. Sekarang ia di belakangku, kami berdua pun lalu menghadap ke cermin. Ia masih dengan ceritanya.
Setelah itu,
“Liat ini!” Perempuan itu menuding nadi di pergelangan tangan kirinya.
Aku yang semula cuma melirik apa yang ia tunjukkan, begitu melihat ada yang beda, langsung menekatkan pandangan. Pembuluh nadinya sedikit menonjol dan berbelok.
“Ini udah tujuh kali gw potong, dan gw ga mati!” Si Stylist kembali mengisap dalam-dalam sebatang sigaret di selipan jarinya. *Set dah!*
“Gw uda nyoba macem-macem cara, yang gw masukin mulut.... Gw minum Baygon campur Superpell, hehe soalnya gw kan ga suka bau Baygon ya Bo… Itu juga ga mati.” Ia tertawa kecil. Aku pun tersenyum, kagum. Hebat juga mau bunuh diri masi mikir bau, suka ga suka.
“Gw minum obat panas gw abisin yang dikasi dokter tu, juga ga mati. Trus gw kan dulu ngdrugs ampe badan gw tuh beratnya Cuma empatpuluh kilo... *tulang? yup* Itu obat xxx gw minum sepuluh butir ada kali ya... Gw ga mati juga. Masuk ICU doang berkali-kali gw... tapi ga mati-mati. Selalu aja ada yang nyelametin gw...” Ia melanjutkan masih dengan senyum dan menggeleng-geleng.
*What the hell is this??!*
Aku terpaku menatap si stylist yang bercerita sambil memainkan rambutku. Satu tangan memegang sisir dan tetap menjepit sebatang LuckyStrike Menthol.
“Makanya, saran gw, elo Nish, kalo mau bunuh diri, mending langsung aja loncat dari atas gedung yang tinggi sekalian.” Perempuan itu berkata dengan tertawa-tawa. Aku cuma tersenyum bingung. Lalu aku mengamati mukaku di cermin. Emang aku ada tampang mau bunuh diri yah? *Belom kawin nih Mbak**
“Loh, kenapa Mbak ga loncat aja?” tanyaku.
“Gw takut ketinggian... Jadi belom nyampe atas udah takut duluan, batal de....” Si stylist terkekeh. Aku mengernyit dahi.
Emang masih ada yah rasa takut saat orang uda mau bunuh diri?
“Emang kenapa sih Mbak, pengen bunuh diri mulu?” Ragu-ragu aku menanyakan ini. Kuatir si embak nggak nyaman juga, tapi aku pengen tau.
“Sekarang lo liat gw... cantik kan gw?” Aku mengangguk.
Narsis juga ni Mbak...
“Gw tuh ngga minta dilahirkan cantik begini! Kalo gw bisa operasi plastik ganti muka, gw ganti de ni muka….Bener!” Si Stylist berapi-api. Lalu mengisap cigaretnya. Aku yang diam ini lalu diongengi tentang sexual abusive yang dialaminya sejak taman kanak-kanak, umur lima tahun, dengan muka datar. Digrepe, dicium dengan nafsu sama keluarga sendiri dan sebagainya, yang membuatku bergidik.
“Cowok mana yang nggak suka, bibir gw merah begini.” Si Stylist menunjuk bibirnya sembari menyalakan satu batang lagi sigaret baru. Lalu tersenyum, manis banget.
Hampir tanpa cacat. Muka tirus, kulit putih, idung lancip, mata cokelat dan senyum membentuk lesung pipit. Giginya putih rapi, bibir sedikit tebal berwarna merah jambu, padahal dia merokok sejak kelas tiga sekolah dasar. Rambut pendek bergaya cowok berwarna cokelat terang dengan hilight kuning. Kacamata membingkai mukanya membuat ia terlihat smart.
“But it was ya, Bo... Sekarang, gw punya suami yang sayang sama gw. Anak gw yang pertama udah kelas lima SD. Maklum ya, yang itu pernikahan dini…” Si Stylist tertawa-tawa. Dari suami pertamanya yang nggak bisa membuatnya bertahan.
“Yang kedua ini Kiara baru satu tahun…” Si Stylist lalu memanggil anaknya.
“Well, Gw bersyukur banget bisa seperti sekarang, kembali dekat dengan tuhan, thanx god, ternyata gw masih diberi kesempatan buat nemuin kebahagiaan, punya suami, punya anak-anak.…” Si Stylist mulai mengecat rambutku. Segenggam segenggam.
Aku pun bersyukur bisa ketemu seorang pemilik salon yang berjuang mati-matian *dalam arti mati-idup:D* menjalani hidup yang nggak mudah bagi siapapun. Setidaknya membuatku tau, ada yang baik dari yang buruk.
Read More......
Labels:
Mereka
Tuesday, August 19, 2008
15 Menit Saja
Aku tersentak. Kubuka mata sedikit, melirik langit yang terlihat dari lubang angin di atas pintu yang sudutnya pas banget kalo diliat dari atas kasur. Masih gelap. Malam atau mendung sih itu? Pikirku. Tak butuh jawaban pandanganku beralih. Lampu kamar yang nggak sempat kumatikan semalam menerangiku melirik si batman yang menggantung di dinging dengan gagahnya.
Masih jam enam… terlalu pagi untuk memulai hari. Aku mengganti posisi tidur, dari tengkurap ke posisi miring memeluk guling.
*status single, tidur memeluk guling*
Tak lama…
Brmm brmmm… dukkdukkdukkdukk…*bener ga sih bunyinya gini?*
Berisik! Duuuh… siapa sih manasin motor pagi-pagi? Nggak tau sopan banget!
Hmm… aku membuka mata sedikit… menajamkan pendengaran, dan…
Ooo anak kos baru itu mau berangkat ngantor. Setelah merasa nggak terjadi apa-apa situasi aman terkendali, aku kembali memejamkan mata… terlelap.
Beberapa saat, lalu….
Ceklek ceklek…
Hrghh… Aku tersadarkan lagi. Jam berapa sih ini, si Tante udah berangkat? pikirku dengan mata masih terpejam.
Saatnya bangun. Tante udah berangkat. Sedikit menggeliat-geliat, aku buru-buru bangkit dan membuka pintu kamar tanpa bercermin. Memastikan apakah memang benar itu si Tante.
“Pagi bener berangkatnya Tant? Gue aja baru bangun…,” sapaku basa-basi.
Si tante senyum terpaksa, melangkah ke arahku, menunjukkan giginya sedikit,jalan mindik-mindik melewatiku, mengambil jarak sejauh mungkin dari tempatku berdiri. Persis gaya cewek lagi digodain cowok.
“Hehe iya, Nish, berangkat dulu yah….” jawabnya basa-basi juga.
“Iya tante…. Ati-ati…” Pandanganku mengikuti langkahnya. Lalu mengarah ke langit, sedikit melamunkan warnanya yang abu-abu.
Jarang sekali Jakarta seperti ini.
Bakal hujan nggak yah…
Kalo hujan aku basah ke kantor, berarti aku harus berangkat cepat sebelum beneran hujan, aku masuk kamar.
Belok ke cermin… wiuhh… rambutku… yang tidak hitam ini berdiri semua, so rock n roll, Maan! Jadi inget Duran-duran, grup band kebanggaanku waktu SMP. *ketauan banget idup di jaman apa*
Atau lebih mirip singa bangun tidur? Entahlah, nggak begitu ingat singa kalo bangun tidur. Aku acak-acak rambutku. Pantes si tante mindik-mindik. Lalu kulihat mataku hmm banyak juga kotorannya, pantes lengket. Kukorek-korek dikit, berjatuhan, mengerjap-ngerjap.. haha.. mataku bebas nggak lengket lagi. Aku masih mematut diri di depan cermin, seyum-senyum nggak jelas.
Nggak lama….
Ceklek ceklek…
"Niiiish… duluan yaa!!" seru temanku sebelah kamar…
“Iyaaa… ati-ati ya” jawabku malas. Lalu kembali pada cermin.
Haaahh?! Kok dia udah berangkat?!
Aku liat si batman pipinya ilang setengah… 8.15!
Aku mandi aja belom! Ketiga teman sekantorku udah berangkat.
Yang terakhir ini pun udah berangkat.
Kalau yang terakhir ini berangkat itu artinya udah sangat siang… karena dia teman seperjalananku menuju kantor.
Hiyaaaa… aku melesat masuk kamar mandi, daan....
Aku memasang sepatu. Melirik Batman lagi… 8.30. Aku tersenyum.
Cool guys! Let’s go to work!
Hmm… cuma butuh waktu 15 menit buat semuanya….
Besok bisa dicoba lebih cepat lagi nih….
Efektif dan efisien. Mangkus dan sangkil menurut KBBI:D
Read More......
Masih jam enam… terlalu pagi untuk memulai hari. Aku mengganti posisi tidur, dari tengkurap ke posisi miring memeluk guling.
*status single, tidur memeluk guling*
Tak lama…
Brmm brmmm… dukkdukkdukkdukk…*bener ga sih bunyinya gini?*
Berisik! Duuuh… siapa sih manasin motor pagi-pagi? Nggak tau sopan banget!
Hmm… aku membuka mata sedikit… menajamkan pendengaran, dan…
Ooo anak kos baru itu mau berangkat ngantor. Setelah merasa nggak terjadi apa-apa situasi aman terkendali, aku kembali memejamkan mata… terlelap.
Beberapa saat, lalu….
Ceklek ceklek…
Hrghh… Aku tersadarkan lagi. Jam berapa sih ini, si Tante udah berangkat? pikirku dengan mata masih terpejam.
Saatnya bangun. Tante udah berangkat. Sedikit menggeliat-geliat, aku buru-buru bangkit dan membuka pintu kamar tanpa bercermin. Memastikan apakah memang benar itu si Tante.
“Pagi bener berangkatnya Tant? Gue aja baru bangun…,” sapaku basa-basi.
Si tante senyum terpaksa, melangkah ke arahku, menunjukkan giginya sedikit,jalan mindik-mindik melewatiku, mengambil jarak sejauh mungkin dari tempatku berdiri. Persis gaya cewek lagi digodain cowok.
“Hehe iya, Nish, berangkat dulu yah….” jawabnya basa-basi juga.
“Iya tante…. Ati-ati…” Pandanganku mengikuti langkahnya. Lalu mengarah ke langit, sedikit melamunkan warnanya yang abu-abu.
Jarang sekali Jakarta seperti ini.
Bakal hujan nggak yah…
Kalo hujan aku basah ke kantor, berarti aku harus berangkat cepat sebelum beneran hujan, aku masuk kamar.
Belok ke cermin… wiuhh… rambutku… yang tidak hitam ini berdiri semua, so rock n roll, Maan! Jadi inget Duran-duran, grup band kebanggaanku waktu SMP. *ketauan banget idup di jaman apa*
Atau lebih mirip singa bangun tidur? Entahlah, nggak begitu ingat singa kalo bangun tidur. Aku acak-acak rambutku. Pantes si tante mindik-mindik. Lalu kulihat mataku hmm banyak juga kotorannya, pantes lengket. Kukorek-korek dikit, berjatuhan, mengerjap-ngerjap.. haha.. mataku bebas nggak lengket lagi. Aku masih mematut diri di depan cermin, seyum-senyum nggak jelas.
Nggak lama….
Ceklek ceklek…
"Niiiish… duluan yaa!!" seru temanku sebelah kamar…
“Iyaaa… ati-ati ya” jawabku malas. Lalu kembali pada cermin.
Haaahh?! Kok dia udah berangkat?!
Aku liat si batman pipinya ilang setengah… 8.15!
Aku mandi aja belom! Ketiga teman sekantorku udah berangkat.
Yang terakhir ini pun udah berangkat.
Kalau yang terakhir ini berangkat itu artinya udah sangat siang… karena dia teman seperjalananku menuju kantor.
Hiyaaaa… aku melesat masuk kamar mandi, daan....
Aku memasang sepatu. Melirik Batman lagi… 8.30. Aku tersenyum.
Cool guys! Let’s go to work!
Hmm… cuma butuh waktu 15 menit buat semuanya….
Besok bisa dicoba lebih cepat lagi nih….
Efektif dan efisien. Mangkus dan sangkil menurut KBBI:D
Labels:
Mereka
Subscribe to:
Posts (Atom)

RSS Feed (xml)