Wednesday, September 2, 2009

Satu Musim

Sudah tidak ada lagi canda yang menghapus liurku setiap pagi
Di musim yang lalu, bergelak tawa menghapus kesal, marah, apalagi resah
Aku cuma tahu rasanya bahagia, saat itu
Lalu musim berganti
Awan hitam menggiring gemuruh petir
Kemarau telah menguapkan tawaku setiap pagi
Hujan mengiringi pelan bening air mataku yang asin
Aku pun tahu, tawaku hanya berlaku di satu musim saja

Terlambat

Aku berpaling. Menemuinya dalam selintas pertemuan dua kornea.
Berbatas kaca kornea itu bicara.
Dalam senyap yang tertelan saja.
Aku menunduk. Bersekutu dengan gemuruh aliran darahku.
“Bukan begini caranya!”
“Mana cinta yang kumau?”

Aku menunduk, tanpa jelang.
Meremas seluruh ucapnya. Kuraba segala candanya.
Kurunutkan sumpah serapah. Menjajaki setiap angkuhnya.
Mengabaikan segenap prilakunya.
Cacinya…,
Aaargh!! Aku bodoh.
Terlalu lama aku bermain dalam kebekuan yang panjang.
“Bahasa cinta tidak selalu indah, kan?”
Aku tahu, dia mencintaiku lebih dari sekadar belaian sebelum tidur.

Lalu aku kembali berpaling menyapa.
Kornea itu telah menutup tanpa batas kaca.
Tidak lagi bisa aku mengetuknya.
Kenapa di saat bersamaan aku mengerti bahasa cintanya.

Im sorry Dad
;)

Menunggu Pagi

Aku menunggumu hingga pagi. Bernyanyi dalam degup jantung menabuh. Tidak ada katamu malam ini. Ngungunku tidak lagi menjadi keinginan. Kosong dan aku terlibat dalam perseteruan khayal yang belum usai.
Menutup mata hanya menambah jumlah bintang-bintang dalam fragmen-fragmen yang bermain di kegelapan otakku.
Jangan. Hari ini aku tidak sanggup menuliskan bagian terakhir ceritaku bersamamu.