Wednesday, September 2, 2009

Terlambat

Aku berpaling. Menemuinya dalam selintas pertemuan dua kornea.
Berbatas kaca kornea itu bicara.
Dalam senyap yang tertelan saja.
Aku menunduk. Bersekutu dengan gemuruh aliran darahku.
“Bukan begini caranya!”
“Mana cinta yang kumau?”

Aku menunduk, tanpa jelang.
Meremas seluruh ucapnya. Kuraba segala candanya.
Kurunutkan sumpah serapah. Menjajaki setiap angkuhnya.
Mengabaikan segenap prilakunya.
Cacinya…,
Aaargh!! Aku bodoh.
Terlalu lama aku bermain dalam kebekuan yang panjang.
“Bahasa cinta tidak selalu indah, kan?”
Aku tahu, dia mencintaiku lebih dari sekadar belaian sebelum tidur.

Lalu aku kembali berpaling menyapa.
Kornea itu telah menutup tanpa batas kaca.
Tidak lagi bisa aku mengetuknya.
Kenapa di saat bersamaan aku mengerti bahasa cintanya.

Im sorry Dad
;)

0 comments: